(Download Rencana Strategis)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan garis pantai sepanjang sekitar 108.000 km serta wilayah laut yang mencapai lebih dari dua pertiga luas wilayah nasional. Kondisi geografis tersebut menempatkan laut bukan hanya sebagai pemisah antarpulau, tetapi sebagai perekat persatuan bangsa, jalur perdagangan, sumber daya ekonomi, media diplomasi, serta ruang strategis pertahanan negara. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa yang berwawasan maritim merupakan salah satu prasyarat penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, budaya bahari telah melahirkan berbagai kerajaan maritim yang disegani di kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, perkembangan pembangunan nasional selama beberapa dekade terakhir menyebabkan orientasi masyarakat cenderung bergeser ke daratan sehingga pemahaman terhadap identitas Indonesia sebagai bangsa maritim semakin berkurang. Generasi muda semakin sedikit memperoleh pengalaman langsung mengenai kehidupan di laut, disiplin pelayaran, kepemimpinan, kerja sama tim, dan kecintaan terhadap warisan budaya maritim nasional.
Di sisi lain, TNI Angkatan Laut selama puluhan tahun telah berhasil memanfaatkan kapal layar tiang tinggi (Tall Ships) sebagai wahana pendidikan karakter, kepemimpinan, disiplin, diplomasi maritim, serta representasi bangsa Indonesia di dunia internasional. KRI Dewa Ruci, KRI Arung Samudera, dan KRI Bima Suci merupakan aset strategis bangsa yang tidak hanya berfungsi sebagai kapal latih Taruna Akademi Angkatan Laut, tetapi juga sebagai simbol kejayaan budaya bahari Indonesia serta instrumen soft diplomacy dalam hubungan antarnegara. Peran strategis Tall Ships TNI AL sebagai media pendidikan, diplomasi, dan pelestarian budaya juga ditegaskan dalam kebijakan internal TNI AL mengenai pemanfaatan kapal layar latih.
Momentum penting terjadi pada tanggal 4 Maret 2026 melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara TNI Angkatan Laut dan Yayasan Sail Indonesia Jaya mengenai pemanfaatan KRI Dewa Ruci, KRI Arung Samudera, serta dukungan terhadap misi diplomasi KRI Bima Suci. Kerja sama tersebut memberikan ruang bagi Yayasan untuk menyelenggarakan berbagai program pendidikan karakter, pelatihan pelayaran, penelitian, serta kegiatan kemaritiman di luar jadwal kedinasan TNI AL dengan tetap mengedepankan kepentingan tugas pokok TNI AL.
Penguatan peran Yayasan semakin berkembang melalui penandatanganan Memorandum of Understanding dengan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada tanggal 10 Juli 2026. Kerja sama tersebut menjadikan KRI Dewa Ruci dan Tall Ships lainnya sebagai laboratorium terapung (Floating Laboratory) bagi pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi kelautan, konservasi, restorasi, serta pengembangan konsep Living Maritime Heritage.
Status KRI Dewa Ruci sebagai Cagar Budaya Bergerak sejak tahun 2023 memberikan dimensi baru terhadap pemanfaatan kapal tersebut. KRI Dewa Ruci tidak hanya dipandang sebagai kapal latih, tetapi juga sebagai warisan budaya nasional yang harus dilestarikan melalui program konservasi, restorasi, digitalisasi, dan pemanfaatan edukatif secara berkelanjutan. Dengan demikian, setiap kegiatan yang dilaksanakan Yayasan harus mampu menjaga keseimbangan antara fungsi pendidikan, pelestarian budaya, dan keberlanjutan operasional kapal.
Berdasarkan kondisi tersebut, Yayasan Sail Indonesia Jaya memandang perlu menyusun Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2026–2030 sebagai pedoman pelaksanaan program lima tahunan. Renstra ini menjadi arah kebijakan Yayasan dalam mengoptimalkan pemanfaatan Tall Ships TNI Angkatan Laut sebagai wahana pendidikan karakter bahari, laboratorium pendidikan dan penelitian, diplomasi maritim, pelestarian warisan budaya, serta pengembangan kemitraan nasional dan internasional secara profesional, akuntabel, dan berkelanjutan.
