LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah laut yang luas meliputi perairan yurisdiksi nasional dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Tantangan pengawasan dan pengendalian di wilayah laut sangat kompleks, termasuk pelanggaran batas wilayah, penangkapan ikan ilegal, penyelundupan, dan ancaman kedaulatan lainnya.
Saat ini, kemampuan surveillance maritim Indonesia tersebar di berbagai instansi seperti TNI AL, Bakamla, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Polairud, Bea Cukai, dan lainnya. Setiap lembaga memiliki alat, sistem, dan area kerja masing-masing, tanpa integrasi komando maupun sistem informasi yang menyatu. Hal ini menyebabkan:
- Tumpang tindih kewenangan dan tugas pokok (tupoksi).
- Pola patroli yang tidak efisien dan boros anggaran.
- Tidak adanya respons terpadu terhadap pelanggaran di laut.
- Terbatasnya anggaran yang tersebar di banyak lembaga.
- Lemahnya daya deteksi dan intervensi di ZEEI.
Oleh karena itu, diperlukan proyek modernisasi dan integrasi sistem surveillance maritim nasional dalam suatu Master Plan baru yang berorientasi pada efektivitas dan efisiensi pengawasan laut Indonesia.
TUJUAN
Mewujudkan sistem surveillance maritim nasional yang terintegrasi, modern, dan memiliki kemampuan untuk mengawasi secara efektif seluruh wilayah kedaulatan laut dan ZEEI Indonesia.
SASARAN
- Terbangunnya sistem komando dan kendali (K2) terpadu untuk seluruh instansi pengawasan maritim.
- Terintegrasinya seluruh sistem informasi dan sensor (radar, AIS, drone, satelit, dll).
- Optimalisasi alokasi sumber daya (kapal patroli, drone, anggaran operasional).
- Terwujudnya joint operation antar-lembaga pengawas laut.
- Tersusunnya Master Plan Surveillance Maritim Nasional Terpadu 2026–2040.
RUANG LINGKUP KEGIATAN
- Identifikasi dan evaluasi sistem surveillance maritim saat ini.
- Kekuatan dan kelemahan TNI AL, Bakamla, PSDKP, Polairud, Bea Cukai.
- Sistem radar, VMS, AIS, drone, satelit, dan C4ISR yang tersedia.
- Pemetaan dan analisis tupoksi lembaga pengawas laut.
- Harmonisasi kewenangan.
- Sinkronisasi peraturan dan SOP lintas sektor.
- Analisis efisiensi dan efektivitas patroli laut.
- Tumpang tindih wilayah operasi.
- Analisis biaya dan waktu operasi.
- Penyusunan Master Plan Surveillance Maritim Nasional 2026-2040.
- Grand Design C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, Reconnaissance).
- Strategi integrasi dan interoperabilitas sistem.
- Skema pendanaan dan alokasi anggaran.
- Pembangunan dan pengujian sistem prototipe integrasi.
- Simulasi joint operation.
- Evaluasi uji coba di beberapa kawasan prioritas.
- Rekomendasi kebijakan dan regulasi penguatan kelembagaan.
- Usulan Perpres atau UU Integrasi Surveillance Maritim.
ANALISIS PERBANDINGAN SISTEM EXISTING VS MODERNISASI
Tabel perbandingan aspek antara sistem surveillance saat ini dan sistem modernisasi:
| Aspek | Sistem Surveillance Saat Ini | Sistem Surveillance Terpadu Modern |
| Struktur Komando | Terfragmentasi antar lembaga | Terpusat, satu komando kendali nasional |
| Deteksi dan Respon | Lambat dan tidak real-time | Real-time detection, early warning system |
| Efisiensi Operasional | Boros, banyak tumpang tindih | Terkoordinasi, efisiensi 20–30% |
| Cakupan
Pengawasan |
Terbatas wilayah tertentu | Menjangkau seluruh ZEEI |
| Teknologi | Beragam, banyak usang | Terintegrasi, mutakhir (AI, drone, satelit) |
| Sumber Daya | Tidak optimal | Alokasi sumber daya terukur dan adaptif |
| Interoperabilitas | Rendah | Tinggi, antar instansi saling terhubung |
